Total Tayangan Halaman

Senin, 12 Maret 2012

RPP PPL


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                       : SMP Negeri 27 Semarang
Kelas/Semester            : VII/2
Alokasi Waktu            : 4 x 40 menit (2 x pertemuan)
Pelaksanaan                 :

A.    Standar kompetensi :
10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan telepon (kreatif, inovatif, kritis, kesantunan, demokratis)
B. Kompetensi Dasar
10.2. bertelepon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santun (kesantunan, demokratis)
C. Indikator
1.      Mampu mendiskusikan tatacara bertelepon (kritis, demokratis,inovatif)
2.      Mampu mendata kesalahan-kesalahan kalimat dalam bertelepon (kritis,kreatif)
3.      Mampu bertelepon dengan mitra bicara sesuai dengan konteks (inovatif, kreatif, kritis,kesantunan, demokratis)
D. Tujuan pembelajaran
1.      Mampu bertelepon dengan kalimat efektif dan santun (kreatif, kesantunan,demokratis)
E. Materi Pembelajaran
1. teks pembicaraan telepon yang tidak tepat
2. Etika bertelepon
F. Metode Pembelajaran
1. ceramah (keingin tahuan)
2. diskusi kelompok (demokkrasi)
3. pemodelan (keberanian, kreatif, demokratis)
G. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
            Pertemuan pertama (2 x 40 menit)
1.      Kegiatan pendahuluan (10 menit)
a.      Salam pembuka (religius)
b.      Guru mengecek kehadiran siswa (kedisiplinan)
c.       Guru mengaitkan pembelajaran dengan situasinyata (kepedulian)
d.      Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dibahas (keingintahuan)
2.      Kegiatan inti (50 menit)
Eksplorasi
-          Siswa memperhatikan informasi guru tentang materi yang akan disampaikan (keingin tahuan)
Elaborasi
-          Membentuk kelas menjadi beberapa kelompok (demokrasi)
-          Ketua kelompok menerima tugas dari guru (tanggung jawab)
-          Siswa berdiskusi mengemai tugas dari guru (demokrasi)
-          Perwakilan kelompok maju praktek didepan kelas (keberanian, demokrasi, tanggung jawab)
Konfirmasi
-          Siswa dan guru memberikan tanggapan mengenai kelompok yang maju kedepan kelas (tanggung jawab, percaya diri)
3.      Kegiatan akhir (5menit)
a.      Guru membimbing siswa membuat simpulan dari materi yang sudah dipelajari (berpikir kritis)
b.      Guru dan siswa melakukan refleksi (percaya diri)
c.       Salam penutup (religius)

Pertemuan Kedua
1.      Kegiatan pendahuluan (10 menit)
a.      Salam pembuka (religius)
b.      Guru mengecek kehadiran siswa (kedisiplinan)
c.       Guru bertanya jawab dengan siswa tentang materi sebelumnya
d.      Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dibahas (keingin tahuan)
2.      Kegiatan inti (50 menit)
Eksplorasi :
-          Siswa mempersiapkan maju praktik di depan kelas  (Demokrasi)
Elaborasi :
-          Siswa melanjudkan praktik bagi yang belum (keberanian)
-          Siswa melaporkan hasil kerja kelompok (keberanian)
Konfirmasi :
-          Siswa menyampaikan hasil diskusi dan melakukan tanya jawab (keberanian, demokgrasi)
-          Siwa menilai hasil praktikan kelompok lain (menghargai karya dan hasil kerja orang lain)
3.      Kegiatan akhir (5 menit)
a.      Guru membimbing siswa membuat simpulan dari materi (berpikir kritis)
b.      Guru dan siswa melakukan krefleksi (percaya diri)
c.       Guru memberi tugas (tanggung jawab)
d.      Salam penutup (religius)
H. Sumber Belajar
1. Internet
2. BSE kelas VII
I. Penilaian
§  Penilaian dilaksanakan selama proses dan sesudah pembelajaran
Indikator Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Teknik Penilaian
Bentuk Penilaian
Instrimen
·         Mampu bertelepon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santun
·         Mampu mendiskusikan tata cara bertelepon
·         Mampu mendata kesalahan-kesalahan kalimat dalam bertelepon
·         Mampu bertelepon dengan berbagai mitra sesuai konteks
Obserfasi



Tes karja
Lembar observasi



Uji petik kerja
§  Bertelepon dengan teman sesuai dengan konteks



No
Aspek Penilaian
Nilai
1
a.       Siswa mampu bertelapon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santum
4
2
a.       Siswa mampu mendata kesalahan kalimat dalam bertelepon
b.      Siswa mampu bertelepon dengan berbagai mitra dengan berbagai konteks
3
3


Keterangan :
            Skor maksimum: 10
                        Nilai akhir = skor maksimum X 10



Mengetahui,                                                                Semarang, 12 Februari 2012
            Guru Pamong,                                                             Mahasiswa Praktikan,


Suparni, S.Pd                                                                        Prihatin Dwi Jayanto
NIP. 197206102007012015                                       NPM. 08410364


MATERI PEMBELAJARAN

Telepon adalah alat telekomunikasi yang dapat mengirimkan pembicaraan melalui sinyal listrik. Zaman sekarang, komunikasi melalui telepon tidaklah asing bahkan menjadi kebutuhan. Berkomunikasi melalui telepon sangat mudah, cepat, dan praktis. Keta dapat berkomunikasi secara langsung meski tidak bertatap muka.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam bertelepon :
1.      Mengucapkan salam dengan sopan
2.      Padat membedakan dengan siapa berbicara ,(berbicara dengan orang yang lebih tua tentu berbeda dengan berbicara kepada teman)
3.      Tidak berbelit-belit atau hemat waktu
4.      Meminta maaf jika salah sambung
Kegiatan bertelepon terdiri dari tiga bagian yaitu pembuka, isi, dan penutup. Bagian pembuka berisi kegiatan mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan menyebut nama orang yang diajak bicara. Kegiatan isi berupa kegiatan menyampaikan isi pembicaraan secara singkat dan jelas. Bagian penutup berisi kegiatan mengakhiri pembicaraan, mengucapkan terima kasih dan mengucap salam.
Berikut beberapa tata cara yang perlu kamu perhatikan dalam bertelepon :
a. Jika kamu sebagai penelepon, hendaknya memerhatikan hal-hal berikut :
1) Meyakinkan kebenaran nomor telepon yang hendak dihubungi agar tidak salah sambung.
2) Menyiapkan pokok pembicaraan yang akan disampaikan agar pembicaraan tidak melantur.
3) Pembicaraan dilakukan dengan singkat dan jelas.
b. Jika kamu sebagai penerima telepon, hendaknya memerhatikan hal-hal berikut :
1) Memerhatikan keadaan dan berbicara dengan sopan serta ramah saat menerima telepon.
2) Menyediakan alat untuk mencatat saat menerima telepon jika ada hal-hal yang perlu dicatat.
3) Menyebutkan identitas diri.
4) Bertanya dengan sopan maksud penelepon.
5) Tidak menutup pembicaraan dalam telepon terlebih dahulu. Jika terpaksa menutup lebih dahulu, gunakan kata yang bijak. Misalnya, “Maaf, saya akhiri dulu pembicaraan ini, ya!”

Contoh bertelepon yang baik :
Dodi                : “Halo, selamat pagi.”
Ibu Ratna        : “Selamat pagi.”
Dodi                : “Benarkah ini nomor 8977878, rumah Ibu Ratna? Ini dari Dodi.”
Ibu Ratna        : “Benar, Dodi. Apakah Ibu bisa membantu?”
Dodi                : “Maaf, Bu. Hari ini saya tidak masuk sekolah. Saya sakit, Bu. Saya mohon izin dulu dan surat izinnya saya titipkan Lulu.”
Ibu Ratna        : “Ya, baik. Beristirahatlah yang cukup supaya lekas sembuh.”
Dodi                : “Terima kasih, Bu. Saya rasa cukup sekian dulu. Selamat pagi.”
Ibu Ratna        : “Terima kasih kembali. Selamat pagi.”

Berikut ini contoh bahasa yang santun dan kurang santun :
1. Bahasa yang kurang santun
a. Gini Bu Guru, aku kan udah bilang nggak bisa ngerjakan tugas ibu, gimana kalau ibu ngajari aku dulu?
b. Ibu malah sudah lupa, gitu aja kok lupa? Ingat dong bu? saya kan bekas murid ibu.
2. Bahasa yang santun
a. Begini Bu, Saya belum bisa mengerjakan tugas Ibu. Apakah ibu dapat membimbing saya lebih dulu?
b. Maaf, apakah ibu masih mengenal saya?

Berikut ini contoh pemakaian bahasa yang efektif dan tidak efektif :
1. Kalimat tidak efektif
a. Roti ini terbuat dari pada tepung, margarin, ovelet?
b. Tolong kenalkan istri saya punya nama Damayanti.
2. Kalimat efektif
a. Apakah roti ini terbuat dari tepung, margarin, dan ovelet?
b. Perkenalkan istri saya bernama Damayanti.

Senin, 05 Maret 2012

cerpen


TUMBUH KASIH DISEKOLAH
Karya : Prihatin Dwi Jayanto

Cerita ini berawal ketika Lusi masih duduk dibangku kelas satu SMA. Setiap hari dia berangkat kesekolah pagi-pagi sekali diantar oleh ayahnya. Dia selalu sendirian didalam ruang kelas tiap pagi karena selalu datang jauh lebih awal jika dibandingkan dengan teman-temanya. Begitu juga dengan Wija yang juga selalu berangkat kesekolah jauh lebih awal dari teman-temannya yang lain. Namun sayangnya Lusi dan Wija tidak satu kelas jadi mereka selalu sendiri-sendiri.  
Lambat laun Wija mulai penasaran dengan sesosok gadis di sebelah kelasnya yang selalu sendiri tiap pagi itu. Diapun mulai bertanya-tanya pada teman-temannya? Siapakah gadis itu? Ketika dia bertanya pada salah satu teman Si gadis ”siapakah nama gadis itu?”, temannya menjawab, “panggil saja dia Lusi, pasti dia nengok?”. Begitu penasarannya Wija. Ketika pelajaran terakhir telah usai, Wija melihat gadis itu berjalan. Tak sabar untuk mengenalnya, Wija pun memanggil”LuuuSS!!!!”, gadis itu pun menoleh kearah Wija dengan senyuman manis dan mempesona. Wija hanya dapat termenung akan lontaran senyum yang diberikan oleh lusi, laksana setitik mutiara ditengah lautan lepas.
Keesokan harinya, di pagi yang cerah mereka sudah tiba sebelum siswa yang lainnya. Keadaan sekolah masih begitu sepi, hanya ada tukang kebun yang sibuk mengerjakan kewajibannya tiap hari. Wija meletakkan tas dibangku kelasnya, kemudian dia keluar ruangan berjalan menuju kelas Lusi. Dari kejauhan Wija sudah gugup bagaimana dia akan mendekati Lusi, seorang gadis yang membuat dia penasaran. Pelan-pelan mendekati Lusi, dengan sedikit basa-basi wija menyapa dan mencoba mengobrol sampai keduanya tak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi,dan bel masuk telah berbunyi. Teriakan dan suara gaduh siswa membuat suasana kelas sangat ramai. Pelajaran pertama hampir dimulai, wijapun pergi meninggalkan kelas lusi.
Pelajaran telah dimulai, namun sepanjang pelajaran Wija hanya melamun saja. Kini yang ada didalam benak pikirannya hanyalah lusi, kemana arah memandang disitu selalu ada bayangan Lusi. Ini perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Terkadang termenung sendiri dan bertanya dalam hati, “Apakah Lusi juga merasakan seperti apa yang dia rasakan?”. Pertanyaan itu hanya tersimpan dalam hatinya tanpa ada jawaban sampai mereka lulus sekolah.
Setahun mereka terpisah kearena kuliah di universitas yang berbeda hingga pada suatu hari mereka bertemu kembali disuatu acara kegiatan di SMA. Wija terkenang akan masa-masa SMA yang indah, perasaan yang bergejolak akan tetapi semuanya tak sempurna karena Lusi mengganggap wija adalah sahabat dan kakak yang terbaik semasa SMA tanpa mengetahui perasaan Wija sesungguhnya. Dalam kesempatan itu dengan perasaan ragu Wija mengungkapkan semua isi hatinya kepada Lusi, mendengar pernyataan dari Wija, Lusi termenung, menangis dan marah. Hanya ada sebuah ungkapan yang keluar dari bibir manis Lusi, “JALANI SAJA APA ADANYA”